Beranda » Artikel Wisata » Sejarah Nama Gunung Bromo

 

Nama Bromo diserap dari nama seorang Dewa dalam kepercayaan umat Hindu, yakni dewa Brahma, yang merupakan lambang dari kesucian. Dalam sebuah cerita, gunung Bromo juga dipercaya menyimpan serentetan benda-benda pusaka peninggalan dewa Brahma.

Bromo sangat erat dengan ajaran agama Hindu. Masyarakat suku Tengger yang mayoritas beragama Hindu yang tinggal di kawasan gunung Bromo, meyakini bahwa gunung tersebut merupakan tempat bersemayamnya para dewa yang selalu melindungi mereka. Dewa-dewa yang berada di sana di antaranya adalah dewa Brahma, dewa Wisnu dan dewa Siwa.

Legenda menceritakan bahwa, dahulu kerajaan Majapahit pernah mengalami hal pahit. Mereka diserang oleh pasukan yang merupakan sekutu dari berbagai daerah. Merasa tidak sanggup menahan serangan, mereka pun mencari tempat pelarian. Satu rombongan mengungsi ke pulau Bali, dan satu rombongan berlindung di gunung Bromo. Itulah kenapa Bali dan kawasan Bromo memiliki banyak kesamaan, baik dalam adat budaya, terlebih dalam hal keyakinan yakni sama sama meyakini agama Hindu.

Rombongan yang tengah berlindung di gunung Bromo, akhirnya meminta perlindungan kepada dewa-dewa yang menaunginya. Kemudian para dewa, terutama Brahma, memberikan pinjaman benda-benda pusaka kepada pasukan kerajaan Majapahit.

Berbincang tentang legenda gunung Bromo, kita tidak bisa lepas dengan kisah cinta yang terjadi antara Joko Seger dan Roro Anteng. Nama suku Tengger di gunung Bromo pun diambil dari perpaduan dari ke-2 namanya yakni an’TENG’ dan se’GER’.

Joko Seger merupakan anak dari seorang Brahmana. Dia dikenal dengan kegagahan dan kekuatannya. Sedangkan Roro Anteng adalah seorang perempuan yang sangat cantik, keturunan Dewa. Semakin besar, semakin menjadi juga kecantikannya. Mereka ditakdirkan untuk saling mencintai, seorang lelaki perkasa nan tampan dan seorang perempuan lembut nan cantik, itulah Joko Seger dan Roro Anteng. Legenda inipun kini diabadikan dengan didirikannya patung Joko Seger dan Roro Anteng di kawasan spot panorama Bukit Cinta.

Sejarah Gunung Batok

Dari waktu ke waktu, kecantikan Roro Anteng semakin tersohor ke seluruh penjuru negri. Banyak anak raja mengantri melamarnya, namun semua lamaran itu ditolak, karena, kamu tahu sendiri, bahwa Roro Anteng hanya jatuh cinta pada Joko Seger.

Hingga akhirnya, ada seorang pemuda yang sangat sakti datang untuk melamar Roro Anteng. Pemuda itu berujar, bila lamarannya ditolak, maka dia akan murka dengan melukai ayah dan ibu Roro Anteng. Sebab merasa khawatir pada keselamatan orang tuanya, dengan berat hati, Roro Anteng bersedia dipinang oleh pemuda sakti tersebut. Tapi, dengan satu sarat.

Pemuda itu harus menjadikan kawasan di sekeliling Bromo sebagai lautan, sehingga Bromo terlihat seperti sebuah pulau, hanya dalam waktu satu malam, dari terbenamnya matahari sampai matahari terbit kembali. Syarat tersebut diajukan dengan harapan agar pemuda sakti tidak menyanggupinya.

Namun siapa sangka, karena kesaktiannya yang luar biasa, pemuda itu menerima syarat itu dengan percaya diri. Ternyata benar, dia menggali tanah di sekitar Bromo dengan batok (tempurung kelapa) raksasa. Melihat pekerjaan pemuda sakti hampir selesai, Rara Anteng tidak diam begitu saja, dia tidak ingin menghabiskan masa hidupnya dengan laki-laki yang tidak dicintainya.

Rara Anteng melakukan konspirasi saat itu, dia menumbuk padi pada malam hari, ayam-ayam yang mendengar suara tumbukan padi, kemudian berkokok saling bersahutan, membuat suasana seoalah sudah pagi. Melihat hal itu, karena merasa kesal, kemudian pemuda sakti melempar batok raksasa tersebut yang kemudian hari, batok raksasa itu kita kenal dengan gunung Batok.

# Bagikan informasi ini kepada teman atau kerabat Anda

Belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi.

Komentar Anda* Nama Anda* Email Anda* Website Anda

Kontak Kami

Apabila ada yang ditanyakan, silahkan hubungi kami melalui kontak di bawah ini.